Rasulullah Saw telah
memberi legitimasi dan perintah untuk melakukan amaliyah dari para Khalifah.
Diantara para Khulafa’ ar-Rasyidin yang paling banyak ‘berinisiatif’ untuk
melakukan amaliyah adalah Sayidina Umar, seperti Tarawih, Tawassul dengan Paman
Rasulullah, membukukan al-Quran, penetapan kalender Hijriyah dan sebagainya.
Diantara yang beliau perintahkan adalah membaca al-Quran di dekat orang yang
telah wafat, sebagaimana riwayat berikut ini:
عن أبي خالد الاحمر عن يونس عن الحسن عن
عمر قال : احضروا أمواتكم فألزموهم لا إله إلا الله وأغمضوا أعينهم إذا ماتوا واقرؤوا
عندهم القرآن ( أخرجه عبد الرزاق (3/386 ، رقم 6043) ،
وابن أبى شيبة (2/448 ، رقم 10882)
Diriwayatkan dari Khalid,
dari Yunus, dari al-Hasan dari Umar, ia berkata: Datangilah orang yang
meninggal, tuntunlah dengan kalimat Lailaaha illa Allah, pejamkan matanya jika
telah mati, dan bacakanlah al-Quran di dekatnya (Riwayat Abdurrazzaq
dalam al-Mushannaf 3/386 No 6043 dan Ibnu Syaibah 2/448 No 0882, juga
diriwayatkan oleh Said bin Manshur)
Sejauh ini belum saya
temukan penilaian dlaif terhadap sanad atsar ini, baik dari ahli hadis maupun
kelompok Wahabi yang biasa gemar menilai dlaif amaliyah sepert ini. Namun, saya
temukan riwayat ini dicantumkan oleh al-Hafidz jalaluddin as-Suyuthi dalam
kitabnya Jami’ al-Ahadits yang dikenal juga dengan nama Jam’u al-Jawami’ atau
al-Jami’ al-Kabir 25/321, dan as-Suyuthi sama sekali tidak memberi penilaian.
Seperti biasa, jika ada riwayat dlaif maka beliau akan menyebutkannya, dan jika
tidak dlaif maka beliau tidak mengomentarinya. Begitu juga dengan riwayat ini.
Perintah Sayidina Umar ini
jelas ditujukan kepada orang yang wafat, karena dijelaskan dalam perintah
sebelumnya “Pejamkan matanya jika telah mati”.
Demikian halnya dengan
atsar di bawah ini:
حَدَّثَنَا
وَكِيْعٌ عَنْ حَسَّانَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ أُمَيَّةَ الأَزْدِيِّ عَنْ
جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ عِنْدَ الْمَيِّتِ سُوْرَةَ الرَّعْدِ
(مصنف ابن أبي شيبة رقم 10957)
"Diriwayatkan dari Jabir bin
Zaid bahwa ia membaca surat al-Ra'd di dekat orang yang telah meninggal"
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No 10967)
Bahkan ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar
memperkuat riwayat tersebut:
وَأَخْرَجَ
ابْنُ أَبِى شَيْبَةَ مِنْ طَرِيْقِ أَبِى الشَّعْثَاءِ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ
وَهُوَ مِنْ ثِقَاتِ التَّابِعِيْنَ أَنَّهُ يَقْرَأُ عِنْدَ الْمَيِّتِ سُوْرَةَ
الرَّعْدِ وَسَنَدُهُ صَحِيْحٌ (روضة المحدثين للحافظ
ابن حجر 10 / 266)
"Ibnu
Abi Syaibah meriwayatkan dari jalur Jabir bin Zaid, ia termasuk Tabi'in yang
terpercaya, bahwa ia membaca surat al-Ra'd di dekat orang yang telah meninggal. Dan Sanadnya adalah sahih!"
(Raudlat al-Muhadditsin X/226)
Riwayat lain yang
menguatkan adalah:
حَدَّثَنَا
حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنِ الْمُجَالِدِ عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ كَانَتِ
الأَنْصَارُ يَقْرَؤُوْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ بِسُوْرَةِ الْبَقَرَةِ (مصنف
ابن أبي شيبة رقم 10953)
"Diriwayatkan
dari Sya'bi bahwa sahabat Anshor membaca surat al-Baqarah di dekat orang yang
telah meninggal" (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No 10963)
Mayit/Muhtadlar
Terkait perbedaan pendapat
bahwa yang dimaksud ‘Mayit/Amwat’ apakah orang yang akan wafat atau sudah
wafat, dijelaskan oleh para ulama berikut ini:
1. Al-Hafidz Jalaluddin
al-Suyuthi
وَقَالَ
الْقُرْطُبِي فِي حَدِيْثِ إقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس هَذَا يَحْتَمِلُ أَنْ
تَكُوْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ عِنْدَ الْمَيِّتِ فِي حَالِ مَوْتِهِ وَيَحْتَمِلُ
أَنْ تَكُوْنَ عِنْدَ قَبْرِهِ قُلْتُ وَبِاْلأَوَّلِ قَالَ الْجُمْهُوْرُ كَمَا
تَقَدَّمَ فِي أَوَّلِ الْكِتَابِ وَبِالثَّانِي قَالَ إبْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ
الْمَقْدِسِي فِي الْجُزْءِ الَّذِي تَقَدَّمَتِ اْلإِشَارَةُ إِلَيْهِ
وَبِالتَّعْمِيْمِ فِي الْحَالَيْنِ قَالَ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ مِنْ
مُتَأَخِّرِي أَصْحَابِنَا وِفِي اْلإِحْيَاءِ لِلْغَزَالِي وَالْعَاقِبَةِ
لِعَبْدِ الْحَقِّ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ قَالَ إِذَا دَخَلْتُمُ
الْمَقَابِرَ فَاقْرَؤُوْا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتْيِن وَقُلْ
هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوْا ذَلِكَ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ
إِلَيْهِمْ (شرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور
للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 304)
"al-Qurthubi
berkata mengenai hadis: 'Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal'
bahwa Hadis ini bisa jadi dibacakan di dekat orang yang akan meninggal dan bisa
jadi yang dimaksud adalah membacanya di kuburnya. Saya (al-Suyuthi)
berkata: Pendapat pertama disampaikan oleh mayoritas ulama. Pendapat kedua oleh
Ibnu Abdul Wahid al-Maqdisi dalam salah satu kitabnya dan secara menyeluruh
keduanya dikomentari oleh Muhib al-Thabari dari kalangan Syafiiyah. Disebutkan
dalam kitab Ihya al-Ghazali, dalam al-Aqibah Abdulhaq, mengutip dari Ahmad bin
Hanbal, beliau berkata: Jika kalian memasuki kuburan, maka bacalah al-Fatihah,
al-Muawwidzatain, al-Ikhlas, dan jadikanlah (hadiahkanlah) untuk penghuni
makam, maka akan sampai pada mereka" (Syarh al-Shudur I/304)
2.
Muhammad bin Ali al-Syaukani
وَاللَّفْظُ
نَصٌّ فِى اْلأَمْوَاتِ وَتَنَاوُلُهُ لِلْحَىِّ الْمُحْتَضَرِ مَجَازٌ فَلاَ
يُصَارُ إِلَيْهِ إِلاَّ لِقَرِيْنَةٍ (نيل
الأوطار للشوكاني 4 / 52)
"Lafadz dalam hadis tersebut secara jelas mengarah pada
orang yang telah meninggal. Dan lafadz tersebut mencakup pada orang yang akan
meninggal hanya secara majaz. Maka tidak bisa diarahkan pada orang yang akan
meinggal kecuali bila ada tanda petunjuk" (Nail al-Authar IV/52)
3. Mufti Universitas
al-Azhar Kairo Mesir, 'Athiyah Shaqar
وَحَمَلَهُ
الْمُصَحِّحُوْنَ لَهُ عَلَى الْقِرَاءَةِ عَلَى الْمَيِّتِ حَالَ اْلاِحْتِضَارِ
بِنَاءً عَلَى حَدِيْثٍ فِى مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ
فَتُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إِلاَّ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ لَكِنْ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ
قَالَ إِنَّ لَفْظَ الْمَيِّتِ عَامٌ لاَ يَخْتَصُّ بِالْمُحْتَضَرِ فَلاَ مَانِعَ
مِنِ اسْتِفَادَتِهِ بِالْقِرَاءَةِ عِنْدَهُ إِذَا انْتَهَتْ حَيَاتُهُ سَوَاءٌ
دُفِنَ أَمْ لَمْ يُدْفَنْ رَوَى اْلبَيْهَقِى بِسَنَدٍ حَسَنٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ
اسْتَحَبَّ قِرَاءَةَ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا عَلَى
الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ فَابْنُ حِبَّانَ الَّذِى قَالَ فِى صَحِيْحِهِ
مُعَلِّقًا عَلَى حَدِيْثِ اقْرَءُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس أَرَادَ بِهِ مَنْ
حَضَرَتْهُ الْمَنِيَّةُ لاَ أَنَّ الْمَيِّتَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ
الْمُحِبُّ الطَّبَرِىُّ بِأَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُسَلَّمٍ لَهُ وَإِنْ سُلِّمَ
أَنْ يَكُوْنَ التَّلْقِيْنُ حَالَ اْلاِحْتِضَارِ (فتاوى
الأزهر 7 / 458)
"Ulama yang menilai sahih hadis diatas mengarahkan
pembacaan Yasin di dekat orang yang akan meninggal. Hal ini didasarkan pada
hadis yang terdapat dalam musnad al-Firdaus (al-Dailami) yang berbunyi: 'Tidak
ada seorang mayit yang dibacakan Yasin di dekatnya, kecuali Allah memberi
kemudahan kepadanya.' Namun sebagian ulama mengatakan bahwa lafadz mayit
bersifat umum yang tidak khusus bagi orang yang akan mati saja. Maka tidak ada halangan
untuk menggunakannya bagi orang yang telah meninggal, baik sudah dimakamkan
atau belum. Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang hasan (al-Sunan al-Kubra
No 7319) bahwa Ibnu Umar menganjurkan membaca permulaan dan penutup surat
al-Baqarah di kuburannya setelah dimakamkan. Pendapat Ibnu Hibban dalam kitab
sahihnya yang memberi catatan pada hadis diatas bahwa yang dimaksud adalah
orang yang akan meninggal bukan mayit yang dibacakan di hadapannya, telah
dibantah oleh Muhib al-Thabari bahwa hal itu tidak dapat diterima, meskipun
talqin kepada orang yang akan meninggal bisa diterima" (Fatawa al-Azhar
VII/458)
Janazah Ibnu Taimiyah Juga
Dibacakan al-Quran.
Al-Hafidz Ibnu Katsir (700-774 H. Pengarang Tafsir
Ibnu Katsir) berkata dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah 14/156-157:
"(Wafatnya Syaik
Ibnu Taimiyah). Syaikh Alamuddin berkata dalam at-Tarikh: Pada malam Senin
tanggal 20 Dzulqa'dah, syaikh Ibnu Taimiyah putra al-Mufti Shihabuddin abi
al-Mahasin, wafat di sebuah tempat di Damasykus di ruangan tempat ia dipenjara.
Saat wafatnya banyak orang yang datang ke tempat itu dan mereka diizinkan untuk
masuk. Para jamaah duduk di dekat mayat Ibnu Taimiyah sebelum dimandikan,
mereka membaca al-Quran, mereka mencari berkah dengan melihat mayatnya dan
menciumnya, lalu mereka berpindah. Berikutnya jamaah perempuan, mereka juga
melakukan hal yang sama (mereka membaca al-Quran, mereka mencari berkah dengan
melihat mayatnya dan menciumnya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar